Valuasi itu bukan hanya PBV, PER, atau bahkan DCF aja. Valuasi adalah seni menghargai nilai perusahaan itu di masa depan. Prinsip dan kegiatan valuasi lebih kompleks daripada itu.

Jika belum paham, berikut ini definisi beberapa valuasi tersebut di atas.

  • PBV: price to book value ratio.
  • PER: price to earning ratio.
  • DCF: discounted cash flow.

Dalam menilai dua perusahaan konsumen kita tidak bisa membandingkan PBV mereka saja.

Gimana menilai mereknya? Gimana loyalitas pelanggan? Gimana jalur distribusi?

Dua usaha setara PBV-nya, beda disclosure, masak kita hargai sama?

Dua usaha sama PER-nya, beda growth, beda kualitas produknya, beda pangsa pasar, masak kita harga sama?

Dua usaha punya DCF sama, tapi yang satu datang dari profit tidak stabil, yang satu cashflow pendanaannya bertubi-tubi, masak kita ambil kesimpulan sama?

Valuasi itu tidak sederhana gitu.

Dua Jenis Valuasi

Pahami juga bahwa ada dua jenis valuasi:

  • Valuasi Relatif
  • Nilai Intrinsik

Baca juga: Valuasi Relatif

Kedua jenis valuasi punya manfaat dan tujuannya masing-masing bagi investor. Manfaatkan sebagai senjata yang bisa Anda pilih untuk menguliti jenis perusahaan yang berbeda.

Studi Kasus

Ada beberapa postingan media sosial dari influencer yang bilang begini: saham industri properti, pakai PBV aja. Industri anu, pakai PER aja. Dan seterusnya.

Problemnya, dua saaham di satu industri itu kualitasnya berbeda. Maka asumsi valuasi seharusnya berbeda.

Anggap saja kita pakai acuan PER, atau price to earning ratio. Lalu kita ambil contoh produk konsumen:

  • Anggap saja PER sama
  • Perusahaan A growth 8%. B growth 5%.

Kita tahu sejarah growth itu masa lalu. Growth ke depan bisa berbeda. Ada insiden boikot bisa menyetop growth. Ada insiden tikus di gerai toko roti bisa menyetop growth. Dst.

Tapi, tren growth tentu saja bisa dipelajari. Minimal buat prediksi. Meskipun kami percaya tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi secara tepat.

Dengan asumsi di atas, perusahaan mana yang PER-nya akan cepat turun jika kedua perusahaan stabil growthnya dalam 3-5 tahun ke depan? Jika growth stabil atau mendekati sejarah masa lalu, perusahaan A akan cepat turun PER-nya.

Nah itu dari growth. Bagaimana dari jalur distribusi yang murah, biaya modal yang rendah, dst. Pengaruh banget ke depan.

Bagaimana dari gaya disclosure dari manajemen?

Misal: perusahaan C punya growth 8%. Perusahaan D punya growth 5%. PBV sama. PER: C cuma 7. D 12.

Problemnya, perusahaan C disclosurenya gak perut eneg. Sering akuisisi. Holding belibet. Keterbukan informasinya “gitu” aja. Struktur usaha, bisnis, terlihat “kabur”.

Perusahaan D simpel aja. Disclosure jelas.

Menurut Anda lebih baik pilih yang mana? Tentu saja meski valuasi agak mahal sedikit, memilih D akan memberi ketenangan.

Apakah itu PER, PBV, DCF, PCS (price to sales ratio), PCF (price to cashflow ratio), dll. Jadi industri sama nggak bakal sama perlakuan valuasinya.

Demikian, semoga bermanfaat.


Diterbitkan: 6 Jun 2024Diperbarui: 7 Jun 2024