Ada apa dengan temperamen?

“A lot of people with high IQs are terrible investors because they’re terrible temperaments.” —Charlie Munger

“The art of investment has one characteristic that is not generally appreciated. A creditable, if unspectacular, result can be achieved by the lay investor with a minimum of effort and capability; but to improve this easily attainable standard requires much application and more than a trace of wisdom” —Ben Graham

Ada apa dengan temperamen?

Apa Kecerdasan Tidak Perlu?

Rasanya tidak masuk akal. Seperti mendengar celotehan tukang jamu yang meremehkan kecerdasan. Tapi, kedua orang ini adalah rekanan dan guru dari investor paling sukses di dunia, sudah selama 70-an tahun lebih. Mereka juga dikenal sangat cerdas.

Masalahnya, kegiatan investasi punya horizon jangka panjang. Investor yang sukses di pasar saham harus mempunyai daya tahan mental jangka panjang. Ia harus mampu menjaga dirinya dari apa yang akan di hadapi di masa depan selama dia beroperasi, apakah 10 tahun, 20, hingga 50 tahunan.

Kenapa Temperamen Penting?

Jika tujuan operasinya adalah menaruh dana jangka pendek,itu hanya percobaan iseng-isengan saja. Investasi adalah kegiatan menaruh modal, secara terus-menerus, dengan harapan dana itu tumbuh ratusan atau ribuan, dalam jangka panjang.

Selama seseorang berinvestasi, dia akan menghadapi fluktuasi, gejolak ekonomi, perubahan kurs parah, ada perang, harga minyak meroket, pandemi, penipuan besar-besaran, inflasi tinggi, dan banyak lain. Tanpa mental yang matang, dalam 1-2 tahun dia akan mundur teratur. Padahal itu mungkin bukan keputusan terbaik bagi dananya.

Karakter Investor

Itulah kenapa temperamen penting.

Seorang investor sudah tahu dirinya untuk apa apa menaruh dananya di pasar modal.

Seorang investor sudah tahu dirinya, kelemahan emosinya di hal tertentu, sehingga dia bisa menghindari atau mengalihkan perhatiannya.

Seorang investor sudah tahu dan yakin dia akan bersikap bagaimana jika pasar turun, naik, stagnan, dan seterusnya. Seorang investor sudah tahu alasan dia berinvestasi di perusahaan A, bukan B.

Seorang investor tidak mudah panik atau terpengaruh bisikan influencer yang pesimis, saat baca berita di koran, atau dari celoteh burung liar.

Seorang investor sudah tahu dirinya dan temperamennya. Susah jadi investor, ya?

Tapi, kami percaya setiap orang yang punya kesungguhan belajar memahami dan menaklukkan dirinya/temperamennya, terus belajar, memahami operasi investasinya, menjadi dirinya yang lebih baik, dia akan jadi investor yang sukses.


Diterbitkan: 23 Jul 2022Diperbarui: 23 Jul 2022