Strategi Average Down

Posted on

Dalam tulisan sebelumnya, juga sebagai jawaban atas pertanyaan korespondensi, saya mengatakan bahwa:

Bila ada dana, manfaatkan average down saham-saham dengan performa paling bagus.

Juga lanjutannya berikut:

Saya tidak keluar dari saham-saham yg sudah saya beli di harga yang saya percayai murah. Saya takut tidak bisa masuk lagi seandainya saya menjual sekarang.

Jadi, mungkin Anda semua sudah tahu strategi average down itu bagaimana. Tapi bila Anda belum tahu, atau ingin mempelajari lebih detil, berikut adalah ulasan tentang strategi ini berikut kelemahan dan hal-hal penting yang bisa membuat keberhasilannya lebih baik.

Average Down

Kali ini kita bahas dulu strategi dasar averaga down. Average down adalah membeli (menambah) saham koleksi kita ketika harganya sedang turun, harapannya adalah untuk mengurangi harga rata-rata pembelian. Untuk lebih jelas, saya akan menyajikan contoh aktual dari transaksi saham saya pada saham ADMF. Contoh sederhana di bawah ini:

TanggalLotJumlah SahamHargaTotal Jumlah SahamTotal Nilai SahamHarga Rata-rata
16 Agustus 2011150011.4005005.700.00011.400
3 Oktober 201115009.7001.00010.550.00010.550
4 Oktober 201115009.5001.50015.300.00010.200

Bisa dilihat dari tabel di atas, ketika harga saham turun lalu kita membeli lagi (menambah) saham tersebut maka harga rata-ratanya akan turun. Dengan penurunan ini saya mengurangi risiko atas saham ini. Kenapa bisa? Asumsinya, dengan harganya yang lebih rendah, margin of safety akan semakin membesar, risiko kerugian pun makin rendah. Asumsi dasar adalah mengurangi risiko melalui penurunan harga beli. Itu adalah kelebihannya. Apakah strategi ini mempunya kekurangan? Tentu saja.

Kelemahan Average Down

Kelemahan strategi ini tentu saja sudah jelas. Bila saham masih terus turun setelah kita melakukan average down, maka kerugian kita bisa bertambah pula. Itu bila cara pandang kita defensif. Bila cara pandang kita optimis, tentu saja kelemahan ini membuka peluang lain, yaitu untuk masuk pada harga yang lebih rendah lagi, dus akan jauh menurunkan harga pembeliannya pada rasio yang lebih besar. Banyak orang bilang strategi average down sangat cocok untuk investor jangka panjang. Tentu saja ini strategi yang tepat.

Kunci Keberhasilan Average Down

Sebagai pengingat, hal penting agar strategi average down ini lebih berhasil adalah perusahaan yang kita pilih haruslah perusahaan yang tepat, sebuah perusahaan dengan fundamental baik yang mempunyai peluang tumbuh sangat banyak dan stabil, dan juga harganya masih di bawah harga wajar. Jangan sampai kita melakukan average down pada sebuah perusahaan yang ternyata merugi. Bila kita melakukan itu, ibaratnya kita mengikuti kemana kekalahan yang tak berujung. Semakin jatuh perusahaan tersebut, dan mungkin akan diikuti penurunan harga sahamnya, kita akan semakin ikut. Bila perusahaan yang kita pilih adalah perusahaan dengan fundamental kuat, maka otomatis kita justru mengurangi risiko. (Tentu saja cara pandang akan risiko harus diubah, nanti akan saya ulas dalam tulisan lain).

Kalau ada yang bertanya, meskipun kita sudah melakukan average down, bukankah harga yang kita bayar masih jauh lebih tinggi daripada harga sekarang? Kita masih tetap merugi. Kenyataan memang demikian. Tapi itu adalah kerugian unrealized, belum terjadi. Adalah fakta bawah kita berniat mengkoleksi saham ini. Kita tidak berniat menjualnya, sepanjang kinerja perusahaannya bagus, dan itu adalah alasan utama–alasan awal kita–membeli saham ini. Sebuah perusahaan yang bagus harga wajarnya akan kembali diapresiasi oleh pasar pada harga yang tepat di masa yang akan datang, meski waktunya kita tak akan tahu pasti.

Jadi, kalau selama ini operasi saham kita adalah melakukan pembelian saham pada perusahaan fundamental bagus dan harganya masih murah, seperti yang kita lakukan selama ini, maka strategi average down tidak punya kelemahan sama sekali. Tapi tentu saja ada syarat agar kita bisa melakukan average down: adanya kas. Bila kita tak punya kas, maka kita tak akan bisa melakukan apa-apa.

Kalau ada yang bertanya, tapi bukannya harganya masih jauh lebih tinggi daripada harga sekarang? Kita masih tetap merugi. Kenyataan memang demikian. Tapi bukankah kita memang berniat mengkoleksi saham ini. Kita tidak berniat menjualnya, sepanjang kinerja perusahaannya bagus, dan itu adalah alasan utama–alasan awal kita–membeli saham ini.

Average Down vs. Cut Loss dan Buy Back

Selama ini kita sering mendengar strategi cut loss, yaitu ketika suatu saham terlihat mengalami penurunan. Tapi bagi investor jangka panjang, strategi ini terlihat lemah karena dua hal:

  • Faktor pertama adalah kita tidak akan tahu bahwa penurunan ini adalah penurunan temporer, atau justru penurunan agak lama.
  • Faktor kedua, kita juga tidak akan tahu masa depan harga saham tersebut, apakah masih akan turun lagi, atau masih akan naik.
Dari dua faktor di atas, akan mengundang dua hasil:
  • Hasil faktor pertama, bila yang terjadi adalah penurunan temporer, misal satu dua hari atau dalam hitungan minggu, lalu kita terlambat masuk ketika harganya sudah menankan tinggi lagi, maka kita tertinggal peluang mendapatkan keuntungan. Bila yang terjadi adalah penurunan agak lama, tentu saja itu baik. Tapi kita harus abaikan ini, karena bila hal ini terjadi dalam jangka panjang, sementara investasi kita juga dalam jangka panjang, hal ini adalah hal yang tidak penting.
  • Hasil faktor kedua, bila kita tidak tahu masa depan saham tersebut, adalah lebih baik untuk menjaga hal-hal yang menurut kita sudah pasti, yaitu peluang pertumbuhan perusahaan. Bila kita diam saja, sementara ada kas, maka kita justru seperti mengabaikan peluang untuk mendapatkan peluang keuntungan. Diam saja tentu tidak salah, apalagi kalau tidak ada kas, diam saja dan mengabaikan pasar adalah hal yang lebih baik daripada menjualnya. Kalau ada yang bilang, bisa saja lebih baik dijual, toh nanti akan turun jadi kita bisa membelinya lagi. Masalahnya kita tidak punya kemampuan melihat masa depan. Kebanyakan kita lebih suka melihat ke belakang daripada ke depan. Melihat ke belakang tentu saja strategi cut loss terlihat baik. Masalah penglihatan ke belakang itu tidak ada gunanya sementara yang kita hadapi adalah masa yang akan datang, masa yang tidak pasti.

Strategi Average Down yang Aman

Untuk menghindari risiko (atau menambah peluang yang lebih baik), strategi average down baiknya harus dilakukan seperti dollar cost averaging, dengan membeli pada jumlah rata-rata yang sama dalam periode waktu yang sama. Misal, kita mampu menyisihkan uang 5 juta per bulan untuk saham, maka kita bisa membaginya menjadi 1.250.000 tiap minggu untuk average down. Hal ini akan lebih menjaga peluang dan risiko kita lebih baik daripada melakukan pembelian dalam jumlah sekaligus, sementara di waktu mendatang saham tersebut bisa turun atau naik lagi.

Strategi kedua average down yang bank adalah menage agar jumlah kepemilikan portfolio saham tersebut tidak lebih dari batas rencana portfolio yang kita rencanakan. Misalnya, kita punya rencana mengatur portfolio saham kita untuk industri agrobisnis sejumlah 10%, untuk industri konsumsi 30%, maka sebaiknya bila komposisi saham kita sudah lebih, kita melakukan sedikit penjualan saham pada industri tersebut agar komposisinya kembali normal. Hal baik adalah bila penjualan dilakukan pada harga yang lebih tinggi. Hal ini akan menambah peluang keuntungan bagi strategi average down.

Dan hal inilah yang kemudian akan membawa kita pada strategi pengembangannya, yaitu safe average down. Nantikan dalam tulisan berikutnya.