Kapan Saat Menjual?

Posted on 5 Komentar

Sejak blog ini terbit pada akhir 2010 hingga sekarang, saya banyak berbagi tentang berbagai pandangan untuk mencari peluang investasi, mencari perusahaan yang terbaik, atau mengetahui kapan membeli saham perusahaan tersebut pada saat yang tepat. Hampir seluruh tulisan di blog ini temanya sekitar hal itu. Pertanyaannya, kalau kita sangat fokus untuk membeli, lalu kapan saat terbaik untuk menjual?

Saya mungkin pernah mengungkap beberapa alasan kecil tentang alasan di balik kegiatan menjual saham. Tapi topik itu tersebar di berbagai tulisan. Mungkin kali ini adalah saat yang tepat untuk membahas kapan saat menjual saham yang terbaik.

Bagi value investor, mungkin ada yang mengalami beberapa pengalaman seperti ini:

  • Saham pilihan yang punya batas keamanan cukup besar tidak pernah naik. Anda sudah cek fundamentalnya. Semua meyakinkan. Anda juga sempat mengecek gosip. Semua baik. Anda masih sabar hingga enam bulan kemudian. Lalu laporan kuartalan kedua keluar. Tapi saham seperti tidur. Lalu Anda melihat peluang di saham lain, yang juga sangat menarik, dan posisi kas terbatas, atau Anda menjaga batas kas untuk saham sudah terpenuhi. Maka Anda menjual sedikit saham ini untuk mengalihkannya di saham baru tersebut. Tiba-tiba saja harga saham meroket. Anda harus cukup puas 5% portofolio Anda naik 70% lebih, padahal sebelumnya Anda sempat memegang saham tersebut hingga 15-20% dari portofolio. Saya sering mengalami hal ini 🙂
  • Saham pemenang Anda mulai naik perlahan. Lalu sahamnya menyentuh harga wajarnya. Anda menjualnya sedikit, berpikir kenaikannya sudah tidak optimal. Hampir 50% portofolio saham tersebut sudah jadi kas. Lalu tiba-tiba saja harganya masih naik hingga overvalued 50% dari harga wajar. Dan Anda hanya bisa menikmati kenaikan 70% saja alih-alih 100%. Saya pernah mengalaminya, bahkan perbedaannya cukup besar, antara 200% vs 500% 🙂
  • Kalau Anda banyak membaca forum gosip atau berita pasar saham, Anda tentu sering terpengaruh bila saham portofolio Anda dikatakan bahwa kenaikannya sudah optimal. Tak masuk akal lagi. Mungkin Anda tidak terpengaruh, tapi saya sering terpengaruh. Memang sih kadang-kadang saya bisa mengalahkan pengaruh ini dengan cara mengecek kembali cerita saham yang saya pegang itu. Tapi, namanya manusia?
  • Dan banyak lagi skenario yang membuat kita geleng-geleng kepala. Kenapa kita bodoh atau terburu-buru? Atau kenapa kita tidak sabar sehingga melepas saham pemenang kita terlalu terburu-buru.

Jadi bagaimana pandangan para maha guru investor tentang saat yang terbaik untuk menjual?

Peter Lynch Tentang Kapan Saat Menjual

  • Untuk saham pertumbuhan lambat, atau yang mulai terindikasi lambat tumbuh, segera jual saat ada kesempatan. Baik Anda untung atau rugi sedikit. Kunci yang Lynch fokus untuk menghadapi perusahaan lambat tumbuh adalah bila mereka kehilangan pasar, tidak ada produk baru, tidak berinovasi, tidak mampu menangani tantangan kenaikan bahan baku atau gejolak harga, juga dividen yieldnya kurang menairk.
  • Untuk saham perusahaan mapan dengan pertumbuhan kecil, hampir sama: yaitu indikasi produk atau inovasi tidak ada, PER sudah tinggi di atas 15 padahal perusahaan sejenis PER-nya 11-12, tidak ada insider buying, sektor yang menyumbang penjualan terbesar mulai menurun sementara ekonomi, atau pertumbuhannya menurun meskipun perusahaan sudah menahan keuntungan dengan berbagai pengetatan.
  • Untuk perusahaan tersiklus, bagi perusahaan jenis ini, kita hanya membeli saham ketika di siklus terendahnya. Profil ini cocok (misalnya) bagi perusahaan komoditas yang menghadapi penurunan harga, lalu sahamnya jatuh. Saat paling tepat untuk menjual perusahaan tipe ini adalah ketika siklus berada di atas. Anda sudah untung 20-30% tidak masalah, itulah saat menjual.
  • Untuk perusahaan pertumbuhan tinggi, saat paling tepat untuk menjual adalah pertumbuhan usaha mulai menurun, stagnan, gaji eksekutif mulai mengurangi profit, ada eksekutif yang bergabung di perusahaan lain, muncul pesaing dengan produk yang bagus, mulai banyak dipegang oleh investor institusional, serta PER sahamnya sudah di atas 30 padahal proyeksi yang paling optimis pun hanya bisa menghasilnya pertumbuhan 15-20 persen.

Bisa kita lihat, Lynch memang bukan tipe investor seperti Buffett yang lebih lama memegang saham, tapi kaidah value investornya terfokus pada kinerja perusahaan. Manakala perusahaan sudah keluar jalur dari ekspektasi kita, apakah itu perusahaan lambat-tumbuh sehingga alasan kita beli adalah yield dividennya yang tinggi, ataukah itu perusahan pertumbuhan tinggi yang mulai melambat, maka itulah tanda yang tepat untuk menjual.

Phil Fisher Tentang Saat Menjual

Phil Fisher adalah seorang yang mempengaruhi Buffett tentang cara memilih investasi hanya kepada perusahaan yang terbaik—yaitu fokus pada potensi, pertumbuhan, moat atau keunggulan kompetitif serta manajemen—saat yang terbaik untuk menjual harus dikembalikan kepada fokus tadi, di mana kita melihat indikator sebaliknya dari saat kita membeli saham. Ringkasan pemikirannya yang tersaji di buku Common Stocks and Uncommon Profit kira-kira begini:

  • Jangan ragu menjual ketika menunjukkan kerugian, baik sedikit atau banyak, kalau semua alasan yang kita gunakan ketika berinvestasi sudah menunjukkan kesalahan.
  • Menjual dengan berharap kasnya bisa untuk membeli saham potensial yang murah lainnya mungkin tidak selalu menghasilkan hal seperti itu. Lebih baik kita fokus pada apa tujuan kita berinvestasi, lalu mengevaluasi tujuan tersebut.
  • Sering kita mempunyai argumen bahwa sebuah saham telah overpriced, sudah terlalu mahal, maka kita menjualnya. Padahal semua indikator mengatakan bahwa perusahaan masih baik, manajemen masih efektif, hanya harganya memang tinggi. Akhirnya ketika perusahaan tersebut masih profitable, dan harganya sahamnya tumbuh, kita sudah ketinggalan kereta.
  • Jangan menjual karena khawatir musim bearish akan mendatangi pasar saham. Jika perusahaan memang benar-benar bagus, maka periode bullish selanjutnya akan dapat mengangkat saham tersebut ke level yang jauh lebih tinggi. Kita mungkin berharap bisa meramal untuk keluar dan masuk pada saat yang tepat. Tapi Fisher mengatakan, sepanjang pengalamannya, kadang musim bearish tidak datang dan akhirnya ia ketinggalan. Kalau memang musim penurunan pasar saham itu datang, kita memang saham perusahaan pemenang, tak usah kahwatir. (Catatan: dalam kesempatan lain Lynch juga berkata kesialan karena terlambat masuk di saat yang kurang tepat bisa mengurangi peluang keuntungan hingga ratusan persen. Pilihan terbaik adalah tidak keluar sama sekali.)
  • Mengurangi menjual karena hal itu akan mengurangi keuntungan kita yang terbagi buat biaya transaksi, pajak penjualan, dan lain-lain. (Catatan: hitunglah biaya komisi Anda dalam setahun maka Anda akan terkejut berapa banyak uang Anda lari buat broker.)

Catatan Penutup

  • Bagi value investor, menjual jauh lebih rumit daripada membeli. Value investor tidak akan ragu membeli di saat pasar jatuh atau harga saham turun 20%, 30% bahkan 50%. Value investor hanya melihat profil perusahaan, dan kalau ia yakin dengan pilihan tersebut, maka gejolak penurunan parah pun tidak masalah.
  • Value investor lebih pusing bila harga sahamnya naik. Kapan saat menjual yang tepat adalah pertanyaan yang lebih rumit untuk mencari jawabannya.
  • Bila kita fokus pada perusahaan dan bukan pada harga, maka pertimbangan kapan saat terbaik untuk menjual seharusnya tidak perlu mengabaikan harganya. Yang harus dipertimbangkan adalah kinerja perusahaan, potensi bisnis perusahaan, manajemen, serta relasi dari usaha perusahaan.
  • Untuk menjual, kita harus melihat kembali pada penurunan, tanda-tanda buruk, manajemen yang tidak bisa mengontrol, dan seterusnya.
  • Ada yang bilang investasi saya sudah menujukkan unrealized gain 50%, kalau tidak dijual sekarang siapa tahu dalam waktu dekat harganya turun, lalu harganya tak pernah kembali ke harga saat ini. Saya mungkin akan melongo melihat hilangnya peluang keuntungan. Ada benarnya pandangan tersebut, tapi juga ada banyak salahnya. Siapa yang bilang harga saham tidak mungkin kembali ke harga saat ini? Atau harganya mungkin bahkan ke level lebih tinggi, tentu dengan kondisi selama perusahaan masih menguntungkan dan bagus. Justru penurunan adalah peluang untuk masuk menambah portofolio.
  • Apakah kita bisa? Seharusnya bisa. Hanya perlu latihan dan disiplin agar kita semua bisa menjadi investor tangguh yang bisa menentukan saat menjual yang tepat, tidak tergoda atau terpengaruh dengan serangan psikologi pasar.
  • Disclaimer: dalam beberapa penjualan saham saya memang tidak mengatakan seluruh alasan saya, misalnya bila saya memandang sebuah perusahaan pertumbuhannya sudah kurang bagus, atau bila saya tidak percaya manajemennya lagi, atau pertimbangan lain yang negatif, maka mungkin Anda tidak pernah membaca saya mengatakan itu semua untuk menghindari permasalahan dan tuntutan. Kita tahu blog ini adalah forum publik. Saya di sini untuk berbagi. Saya akan mengatakan alasan-alasan umum yang material dan sudah dipublikasikan. Opini yang saya sajikan di sini pun hanya yang bersifat aman dan tidak merusak saja. Jadi, Anda bisa menganggap kalau saya menjual berarti harapan saya pada perusahaan telah turun. Tapi setiap investor harus melakukan risetnya sendiri, dan tanggungjawab investasi ada di tangan masing-masing.

Selamat berinvestasi!

5 komentar di “Kapan Saat Menjual?

  1. Sepertinya Bung Bola agak kelewat akrab sama Tuan Pasar nih. Makanya kadang2 kebawa2 sifat neurotiknya yang suka aneh2. Hehehehe….. 😀

    1. Kalau dibilang akrab, tidak juga, tapi saya selalu dekat dengan Tuan Pasar. Untungnya, meski hampir tiap hari saya menolak berbisnis dengannya, dia cuek dan terus berusaha berbisnis dengan saya. Itu yang saya suka 🙂

  2. ayo, smsm sudah dijual belum Pak? kan sudah menunjukkan penurunan penjualan dan laba bersih

    1. Terima kasih. Saya tidak membahas portofolio lagi ya ?

      1. jadi apa yang dibahas Pak? hehe

Komentar ditutup.