Apa itu Filosofi Investasi Akan Sangat Cerdas Jika Paling Mendekati Bisnis?

Ini adalah sebuah filosofi sederhana yang bisa mengubah paradigma kita saat berinvestasi.

Mengutip Benjamin Graham di The Intelligent Investor, “Investment is most intelligent when it is most businesslike” Kalau secara sederhana, artinya mungkin “investasi itu akan sangat cerdas jika kita perlakukan dengan perspektif paling mendekati bisnis.

Menarik, kan?

Mungkin banyak ungkapan atau terjemahan dari perspektif ini, misalnya: investasi itu harus untung, sebagaimana bisnis harus untung. No! Tapi tidak sesederhana itu. Maksudnya, gimana?

Versi Video

Contoh Ironi yang Riil

Dalam buku Graham memberi contoh ada pebisnis yang piawai mengelola bisnisnya. Tapi saat mereka mengelola investasi saham, baik dalam bentuk ekuitas atau investasi likuid lain, mereka gagal atau boncos. Ini tentu ironi.

Ketika kita (termasuk saya) bersentuhan dengan harga yang berubah-ubah, data “ticker” yang bergerak cepat, informasi yang berubah cepat, seketika kita langsung terganggu.

Itu selayaknya tidak terjadi jika kita memperlakukan investasi sebagai bisnis.

Prinsip Pokok

Prinsip pokok dari filosofi ini adalah sebuah saham yang kita beli, ticker yang kita klik buy di aplikasi, atau via broker, semua adalah bisnis. Baik itu satu lot, ratusan lot, ribuan lot, jutaan lot, itu adalah bagian dari bisnis. Artinya apa? Ketika kita mempunyai bagian dari bisnis, kita punya interest, dalam istilah Indonesia bisa diartikan andil.

Ketika punya bagian dari bisnis, kita bisa berpikir nanti kita bisa mendapatkan apa dari bisnis kita? Bisnis itu bisa menghasilkan dari 2 (dua) cara yang bisa kita peroleh sebagai pemiliknya: dari laba dan capital gain.

Kalau dari laba, itu jelas, ada kalkulasi beban pokok penjualan, ada margin laba kotor, ada beban usaha, ada beban pemasaran, ada beban administrasi, dst.

Setelah kita tahu konsep bisnis riil dari laba, arus kas, dan kemudian nilai buku. Dalam hal terakhir ini (ekuitas atau nilai buku), kita sebagai investornya kemudian bisa mengaitkan apakah ada peluang bahwa nilai bisnis akan naik beberapa tahun ke depan? Dari situ kita bisa mengaitkan keputusan valuasi dan lain-lain. Sesederhana itu.

Meskipun faktanya setiap investor operasinya adalah beli dan menjual saham-saham yang tickernya di jual di pasar modal. Tapi ketika investor berpikir dalam perspektif (paling) mendekati bisnis, setiap buy dan sell dia berpikir dalam rangka mengelola bisnis.

Dari semua itu kita bisa refleksikan dalam beberapa prinsip berikut.

Prinsip Pertama

Pertama, kita harus tahu bisnis tersebut. Kemudian saat mempertimbangkan laba atau rugi sebuah usaha, kita bisa berpikir soal bagaimana prospek bisnis itu. Apakah bisnis sedang stagnan? Apakah usaha itu ada potensi pelemahan? Apakah industri sedang siklus rendah? Ataukah perusahaan justru punya potensi pertumbuhan menarik di masa depan? Apakah bisnis yang kita incar tersebut bisa bertahan dalam 1 atau 2 dekade ke depan?

Apakah manajemen bisa kita percaya? Sebagai pebisnis Anda juga akan bisa berpikir bagaimana komitmen manajemen mengelola bisnis ini, apakah cukup baik? Bagaimana komitmen mereka meningkatkan modal yang ditanam dalam usaha? Bagaimana upaya mereka meningkatkan nilai perusahaan? Apakah ada potensi dari kompetitor? Dan seterusnya.

Coba pikirkan, jika kita menarik perspektif ke sebuah bisnis, di situ akan konkret. Menarik, kan?

Dalam kerangka berpikir “the most businesslike”, sebagai investor kita tidak akan khawatir dengan hal apa pun di luar bisnis itu seperti harga saham yang memang berfluktuasi (baik naik atau turun), entah itu gejolak usaha temporer, apakah ada isu rumor buruk, whatever.

Prinsip Kedua

Prinsip kedua, jangan izinkan orang lain menjalankan bisnis kita. Dalam perspektif investor serius yang bermodal kecil, mungkin dalam mengelola investasi tidak tergantung dengan pandangan orang lain di luar sana.

Bagaimana kalau ada investor yang membeli data atau riset dari luar? Investor tetap akan menyaring fakta, data, dan pendapat itu sesuai dengan kerangka bisnis yang dipahaminya.

Dengan kerangka itu investor memproteksi diri dari ketidaktahuan, proteksi diri dari ketidakpastian dari faktor luar (ekonomi, industri, bencana, dll), juga bisa melindungi dari risiko yang tidak diketahui, investor juga bisa memproteksi diri dari posisi saat mengelola bisnis itu dalam jangka panjang ketika investor berusaha meraup nilainya atau saat memiliki sahamnya untuk dipanen keuntungannya di masa depan (baik dari dividen atau capital gain).

Kalau investor besar, perspektifnya adalah tidak membiarkan kita berinvestasi dalam usaha yang dikelola manajemen yang mengaitkan bisnis dengan hal-hal di luar bisnis mereka. Ada manajemen yang selalu terobsesi dengan harga saham, tujuannya saat harga saham naik mereka mendapat bonus tinggi. Ada banyak kasus seperti itu di luar negeri dan di Indonesia.

Prinsip Ketiga

Ketiga, seperti diingatkan oleh Graham, menghasilkan yield yang rasional dari labanya. Dalam istilah investor kecil yield artinya keuntungan dari dividen. Dalam term corporate finance, yield bisa dipandang jika usaha menanam modal dengan biaya 6% dan bisnis mengembalikan laba 10%, maka itu usaha yang cukup layak. Semakin besar yield semakin baik. Poinnya adalah manajemen harus bisa menghasilkan yield yang rasional.

Prinsip Keempat

Prinsip keempat yang bisa dimanfaatkan oleh investor individu ketika akan berinvestasi adalah kita harus berani dan yakin untuk membuat keputusan dari analisis bisnis yang bersuara (sound). Jika semua judgment data analisis dan alur berpikir investasi kita itu masuk akal (sound) atau correct, tidak peduli berhadapan dengan apa pun di luar sana apakah itu harga, rumor, atau pendapat teman, kita harus berani melangkah karena kita berhadapan dengan peluang bisnis yang menarik. Jelas perlu keberanian dan keyakinan dalam mengambil keputusan!


Demikian pemaparan dari kami tentang prinsip bahwa investasi itu akan sangat cerdas jika dipikirkan, ditautkan, atau dijalankan dalam kerangka berpikir paling mendekati bisnis.

Semoga bermanfaat.


Published: 16 Mar 2022Last updated: 7 Jul 2022