melek finansial

Melek Finansial Menurut Kami

Posted on

Banyak anggapan di masyarakat ilmu “perduitan” ini dianggap levelnya rendah. Ada anggapan tidak elok, semua hal diitung-itung. Ada anggapan rezeki sudah ada yang “mengatur”, dsb.

Memang benar ilmu “ikhlas” dan “nrimo ing pandum” itu penting banget, tapi langkah sebelum itu seharusnya diusahakan.

Menurut saya kita harus banyak mengajarkan ilmu kesadaran keuangan ini. Apa sih kemampuan melek finansial itu?

Ilmu kesadaran finansial adalah bekal mengetahui tujuan, manfaat, hambatan, dan cara mengelola sumber daya keuangan secara bijak sesuai kondisi masing-masing.

Menurut saya, ini ilmu yang amat penting.

Faktanya literasi finansial kita memang rendah. Hal itu bakal menciptakan lobang bencana yang bakal menjerumuskan masyarakat di masa depan.

Mau bukti?

Sudah terlalu banyak kasus penipun dilaporkan di berbagai media. Ada penipun money game, ponzi umroh, penipuan perumahan tidak dibangun, penipuan investasi bodong, usaha bodong, dll. Sudah terjadi, eh sepertinya masih banyak terjadi lagi.

Kemudian berbagai layanan finansial unregulated, baik untuk tujuan spekulatif atau tujuan mencari keuntungan yang tidak adil, bermunculan tanpa kuasa bisa dihentikan oleh regulator. Ini sebenarnya ada masalah lain, seperti pengusaha yang tega dan tidak etis.

Tapi seandainya kesadaran keuangan lebih kuat, mungkin mereka bisa menolak pinjaman tanpa jaminan (pinjol, KTA, dll) untuk memenuhi kebutuhan konsumtifnya. Bagaimana tidak berhutang? Keinginan dan kebutuhan harus dikelola ketat. Sejak muda. Sejak mereka belum nikah. Sejak anak kecil.

Hiduplah untuk membeli masa depan. Bukan menjual masa depan.

Kesadaran finansial akan memperkuat tatanan masyarakat sehingga bisa hidup wajar. Fokusnya bukan harus pelit. Tidak. Menurut saya ia adalah masyarakat yang mampu berkata “tidak” untuk ajakan kegiatan yang menjerumuskan ekonomi diri dan keluarganya!

Kita bisa mendefinisikan masyarakat bebas finansial seperti seseorang yang bisa berkata cukup. Ada banyak contoh sederhana:

  • Pegawai pemerintah yang hidup sederhana tapi cukup layak sehingga ia tidak harus senggol sana sini
  • Pedagang yang tidak harus mengurangi timbangan dan mampu memberi sedekah saat tetangganya membutuhkan
  • Atau orang tua yang bisa mendidik anaknya secara keras agar tidak merengek hadiah dulu sebelum bekerja, sekecil apa pun
  • Penjual tempe di pasar yang sudah pulang pukul 9-an, ia masih memiliki rumah di kampung tempat ia punya sayuran sederhana dan bisa makan cukup dengan suaminya.

Masyarakat yang tidak melek finansial adalah sebuah lingkaran sesat saat tak ada kesadaran kapan berkata tidak soal berbagai masalah keuangan. Ada orang tua boros terhadap kebutuhan pribadinya tapi saat kebutuhan penting seperti pendidikan dia kewalahan. Ini namanya lingkaran setan.

Semua masalah keuangan ini akan “compounded“, berbunga majemuk, menjadi seperti efek bola salju (nama situs saya!) kalau tidak dikelola dengan baik. Jika buruk maka ia akan menjadi penyakit kanker masyarakat yang bisa sangat menjerumuskan.

Betapa bahaya masyarakat tidak melek keuangan.

Masyarakat melek keuangan akan menjadi fondasi dan pendorong suatu bangsa untuk tumbuh dan mandiri.

Salatiga, 17 Juni 2021