Earning Power atau Investasi?

Earning Power atau Investasi, Pilih Mana?

Posted on

Melanjutkan diskusi edukasi tentang hati-hati yang kami share minggu lalu. Pertanyaan selanjutnya yang sering muncul biasanya begini:

  1. Kalau caranya konservatif begitu, kamu nggak bakal untung besar.
  2. Kalau caranya hati-hati, kapan bisa kaya? Lamaaa!

Dari beberapa bantahan itu sebenarnya ada beberapa hal yang bisa disorot, yaitu: besar dan waktu.

Nggak Bakal Untung Besar?

Kriterianya besar ini berapa? Ratusan juta? Milyaran?

Modal besar -> untung/rugi juga besar.
Modal kecil -> untung/rugi juga kecil.
Melawan argumen itu melawan hukum dasar.
Padahal, dalam investasi di pasar modal, ada hukum dasar, mayoritas pelaku pasar kalah sekitar 80%-95%.

Yang relevan adalah keuntungan relatif. Dalam persentase. Argumen keuntungan relatif akan masuk akal.

Modal Rp10 juta untung 500 ribu hingga Rp1-2 juta, atau sekitar 5%-20%, itu masih masuk akal. Modal Rp10 juta berharap ratusan juta itu namanya mimpi. Secanggih, secerdas, sekaliber apa pun Anda.
(Kecuali variabel waktu lama ditambahkan itu lain).


Lama Untungnya

Argumen berikutnya adalah soal waktu.

Biasanya argumennya begini:

  • Kalau caranya hati-hati, kapan bisa kaya? Lamaaa!
  • Saham LQ45 kapan bisa cepat kaya. Bayangnnya untung ratusan persen dalam waktu singkat.

Saya tidak tertarik soal strategi jangka pendek. Maka jika ada bantahan dari sisi ini, silakan tanya mereka yg mendukung strategi trading jangka pendek.

Soal waktu lama, saya sepakat dengan yang sering dibilang Chris Angkasa, earning power itu lebih penting daripada investing.

Pentingnya Earning Power

Maksudnya gini. Sesungguhnya pekerjaan, usaha, dan pertumbuhan kualitas pendapatan seseorang lebih berharga dalam meningkatkan taraf hidup dan kemampuan keuangan seseorang, daripada investasi.

Ingat common sense: investasi datang setelah earning power mencukupi. Bukan investasi sebagai alternatif bekerja. Saya tidak setuju.

Simpelnya gini: katakanlah Anda bisa menaikkan gaji 10%/tahun. Pertumbuhannya dalam 20 tahunan bakal gila kan. Gaji ini bisa diganti dengan usaha, bisnis, atau aset apa pun. Jumlahnya juga akan gila. Dengan catatan kalau semuanya berjalan sesuai rencana dan lancar. Itu hal lain, dan kita harus hormati dan ikhlas menerima takdir dan โ€œgaris hidupโ€ dari Tuhan.

Bagaimana Kalau Investasi?

Nah, hukum kinerja investasi maksimum IHSG 10-12%. Ini rata-rata. Mentok, itu jika perform. Ya, ada juga investor yang outperform di atas itu. Tapi sedikit sekali yang bisa konsisten melakukannya. Lebih banyak yang di bawah itu.

Masalahanya, dalam investasi saham PASTI ada beberapa tahun yang underperform. Belum lagi soal banyak yang gagal di saham, kan? Siap skenario buruknya?!

Nah, refleksi dari kedua hal itu: mau mengandalkan earning power atau investing, Anda cukup bersahabat dengan waktu. Earning power bisa dilakukan oleh siapa saja. Investasi bisa dilakukan oleh sedikit orang. Jika tidak bisa melakukannya maka harus siap dan terima risikonya, return lebih kecil. Itu berkah. Efek Bolasalju itu akan bekerja dalam kehidupan Anda! Itu saja. ๐Ÿ˜€

Apalagi dengan investing. Dalam jangka pendek atau jangka panjang, setiap uang yang ada di pasar modal bertempur dengan loss ratio yang hukumnya pasti. Loss ratio akan makin kecil dalam jangka panjang. Loss ratio akan makin kecil kalau belinya di titik harga rendah ๐Ÿ˜€ Dari kedua alternatif pilihan yang ada, jika memutuskan investasi, saya lebih memilih jangka panjang karena peluang, rasionalitas, dan pola kerja lebih nyaman dan cocok buat saya.

Kembali, Hati-hati

Di situlah pentingnya hati-hati. Mereka yang hati-hati bergabung dalam pertumbuhan bursa dalam jangka panjang akan selamat. Caranya? Ya dia mengikuti pertumbuhan bursa itu dalam jangka panjang. Tidak usah memaksa. Toh juga akan tumbuh. Bahkan, menurut Graham, hasilnya lebih dari lumayan.*

*Tentu dengan banyak disclaimer: harus konservatif, perusahannya profitabel, sehat keuangannya, manajemennya tidak bobrok, produk/jasanya tidak bakal punah, dll.