Sampul buku Stocks for the Long Run, karya Jeremy Siegel

Buku: Stocks for The Long Run

Posted on

Judul: Stocks for the Long Run
Penulis: Jeremy J. Siegel
Penerbit: McGraw-Hill
Tahun: 2014, 448 halaman (sampul keras)—edisi Kindle sekitar 424 halaman

Buku tersedia di BookDepository (bebas ongkos kirim ke Indonesia) atau di Amazon

Versi Kindle buku ini saya beli sejak Maret 2017 lalu, dengan harga diskon hanya $1,99 dari Amazon. Value investor selalu senang diskon! Sayangnya saya baru selesai membaca buku ini kemarin. Saya menyesal telah menunda baca terlalu lama. Padahal buku ini saya kira sangat bagus. Buku ini menurut saya adalah buku investasi saham dengan dukungan data yang terbaik, yang bisa dibaca oleh audien lebih awam.

Intelligent Investor membantu saya meletakkan pemahaman yang benar akan perilaku investasi konservatif, jangka panjang, berdasarkan telaah keuangan mendalam yang saat ini disebut analisa fundamental, dan utamanya membeli saham murah yang punya nilai intrinsik lebih besar dibanding sahamnya. Graham telah menyediakan beberapa data penting, seperti seabad sejarah pasar saham di bukunya (bab 3). Buku ini lebih dahsyat lagi, datanya tersedia sampai 200 tahun, dari 1802 hingga 2012.

Bagi Anda yang mencintai data, atau jika Anda punya proses berpikir logis yang terukur dengan data historis yang lengkap, buku ini akan membuat Anda mengalami puncak spiritualitas tertinggi.

Saya rasa ungkapan ini tidak berlebihan. Anda akan memahaminya setelah penjelasan singkat di ulasan ini.

Buku di dibagi menjadi lima bagian: 1) sejarah perolehan saham dulu, sekarang, dan masa depan; 2) putusan sejarah; 3) bagaimana keadaan ekonomi mempengaruhi saham; 4) fluktuasi saham dalam jangka pendek; dan 5) membangun kekayaan melalui saham.

Saya kira Anda sudah menduga bahwa buku ini sangat pro investasi saham dalam jangka panjang, sangat panjang terutama. Dengan data yang disajikannya, Profesor Siegel berargumen secara umum kinerja saham dalam jangka pendek pasti tidak memuaskan, apa pun lawannya, apakah itu obligasi, inflasi, dan seterusnya. Dalam jangka panjang, perolehan saham pasti memuaskan, bahkan dibanding apa pun. Jangka panjang di sini kisarannya bukan 5 tahun atau 7 tahun, bahkan lebih dari itu. Lebih panjang lebih baik lagi.

Seperti tema besar dalam lima bagian tadi, pembaca akan disodori fakta-fakta sejarah perolehan saham sejak 1802, masa perang dunia, setelah perang, beberapa kali krisis di era modern, seperti: masa junk bond, krisis Asia, krisis dotcom, krisis perumahan Amerika Serikat. Dan, ya, penulis menyajikan banyak sekali data dan grafik untuk mendukung argumen-argumennya.

Setelah puas mendapat kekhawatiran dan pertanyaan besar apa memang benar saham itu punya kinerja memuaskan dalam jangka panjang. Bagian kedua menyajikan fakta dan data sejarahnya. Perbandingan saham dan obligasi, ada sejak 200 tahun terakhir dari 1802-2012 (revisi terakhir terbit 2014). Risiko, perolehan, dan alokasi portofolio, termasuk juga periode memegang saham, korelasi dengan obligasi, dan seterusnya. Dan Anda akan puas sekali dengan data-data yang tersedia. Anda juga akan menyukai bahwa penulis tidak lupa tentang indeks. Dan, ya juga tersedia data pembandingnya. Indeks memang masih merupakan alternatif mujarab bagi investor yang tak punya waktu luang untuk melakukan analisa mendalam. Ada buktinya juga!

Apa saja dibahas penulis buku ini: pengaruh pajak ke kinerja saham dan obligasi, sumber perolehan pemegang saham dari dividen dan keuntungan kapital, dan tentu saja ukuran perolehan saham ke value. Ya, value investor akan sangat senang membaca Bab 11 ini. Bab 12 penulis menyajikan bagaimana sejarah mengalahkan pasar, termasuk bahasan jenis-jenis sahamnya, perbedaan kinerja saham small cap dan big cap, saham value, saham dividen, saham growth. Bab tentang global investing juga menarik. Ya, semua didukung dengan data.

Bagian IV adalah penjabaran lanjutan berbagai gagasan penting yang selalu menjadi pertanyaan investor. Hubungan dengan standar keuangan emas, inflasi, efek perang, kebijakan pemeintah, kebijakan bank sentral, siklus bisnis, dan lain-lain. Dan, ya semuanya tersedia data dan pengaruhnya. Sekali lagi, seperti saya bilang, Anda akan mengalami puncak spiritualitas dengan membaca buku ini—jika Anda pecinta data.

Bagian V adalah argumen penting kenapa investor harus meletakkan paradigma dasar investasinya dalam jangka panjang. Berbagai perbandingan juga disajikan di bab-bab bagian ini, bahkan ETF, Indeks Futures, Opsi juga dibahas. Ya ampun, haibat sekali kan? Tak lupa tentang pergerakan harga dan favorit value investor, tentang trik meramal pergerakan harga saham melalui analisa teknikal. Ya, semua ada datanya. Baru kali ini saya menjumpai potensi perolehan metode investasi menggunakan analisa teknikal versus holding forever. Siapa yang menang? Anda tahu sendiri lah.

Salah satu kesimpulan di Bab 20 tersebut, analisa teknikal memerlukan perhatian penuh investor. Kehilangan satu momentum saja seperti pada 16 Oktober 1987 sore itu akan mengerus keuntungan 22 persen di Black Monday. Saya lihat selisih kinerja metode teknikal dengan hold memang ada, dalam jangka panjang sangat signifikan. Tapi yang terlupa oleh penulis menurut saya adalah statistik itu hanya simulasi. Mana ada investor jangka pendek yang bakal berinvestasi jangka panjang? Statistik riil mereka yang berbagi pun sangat terbatas. Dus, data ini pun hanya simulasi belaka. Sementara itu investor dengan gaya periode menyimpan dalam jangka panjang sangat banyak yang menyajikan kinerja mereka secara terbuka.

Kesimpulan saya, buku ini akan memberi keyakinan tambahan dan bukti data yang sangat komprehensif bagi mereka yang beraliran investasi jangka panjang. Sayangnya, manusia, pada akhirnya manusia hanya kembali ke keyakinan mereka yang semula. Seperti diungkap dalam satu diskusi tentang behavioral yang diangkat oleh Daniel Kahneman dan kawannya, manusia tidak berperilaku seperti yang diprediksi oleh teorinya. Ada juga pandangan lainnya bahwa manusia mendasarkan perilakunya dari apa yang mereka alami. Seorang investor yang punya pengalaman pertama kali buruk di bursa tak akan percaya bahwa investasi saham jangka panjang bisa menguntungkan seperti itu. Saya ingat, saya punya pengalaman beberapa kali realisasi rugi ketika bertransaksi saham. Tapi saya meletakkan kepercayaan bahwa transaksi itu masih belajaran. Ketika saya mendapat sebuah peluang investasi dan saya yakin bahwa itu adalah benar-benar peluang riil, meskipun harganya turun beberapa bulan kemudian, saya terus mengakumulasi sahamnya dan saya bisa memanennya beberapa bulan kemudian. Pengalaman berinvestasi jangka panjang setelahnya jadi terasa mudah. Mungkin orang lain punya pengalaman berbeda.

Bagaimana menurut Anda? Investasi jangka panjang atau jangka pendek?