Berinvestasi Di Apa yang Kamu Ketahui

Paradigma investasi ini dipopulerkan oleh Peter Lynch melalui bukunya “One Up in Wall Street”.

Paradigma ini mengajarkan bahwa masyarakat sebaiknya fokus saham-saham yang mereka ketahui bisnisnya, produknya atau jasanya, atau lebih detail lagi yang kita ketahui tentang suatu saham (usaha). Semakin dalam kita tahu, semakin bagus keputusan investasi kita.

Namun, paradigmanya lebih dari itu.

Seberapa Bagus?

Memang benar mengetahui produk/jasa itu penting. Tapi kecintaan terhadap produk/jasa kadang bisa membuat kita bias.

Apakah perusahaan sebenarnya bagus? Seberapa bagus? Selama apa bagusnya? Bagaimana nilai perusahaan tertransfer ke kita sebagai investor?

Prinsipnya sudah benar, jika investor menanyakan atau berusaha tahu sahamnya, dia akan lebih paham “nilai” perusahaan itu.

Nilai vs Harga

Setelah tahu “nilai” perusahaan, maka hal selanjutnya adalah persoalan apakah nilai itu dibanding harga saham yang ditawarkan sepadan?

Semakin murah harga yang dibayar untuk saham perusahaan yang bagus, maka logikanya ekspektasi keuntungan akan lebih besar.

Selain mengetahui harga yang bagus, investor juga harus bersikap pada saat yang tepat.

Investor yang PAHAM

Hal selanjutnya setelah itu, adalah rangkaian keputusan-keputusan investasi yang dilakukan. Beli murah, jual mahal. Jual yang sudah terlalu mahal? Jual yang akan lewat siklusnya? Jual yang sudah lewat masa pertumbuhan emasnya? Jual yang mana lagi? Lalu belikan yang mana lagi? Atau, hold terus?

Berinvestasi di apa yang kamu ketahui bisa juga kita perluas perspektifnya bahwa INVESTOR PAHAM apa yang dia lakukan dengan investasinya.

Apa bisa Disederhanakan?

Bisa. Investasi yang kamu ‘ketahui’.

Bagaimana soal harganya? Bagaimana tentang posisinya? Besarnya? Apakah investasi berkala yang diketahui investor umum tidak bisa berhasil jika dilakukan secara sederhana?

Saya percaya bisa. Pertama, saham perusahaan bagus pada dasarnya akan mengantarkan perolehan lebih dari lumayan dalam jangka panjang. Lihat “10 Saham Berkapitalisasi Terbesar”. Kuncinya jangka panjang.

Timeframe - Jangka Panjang

Paradigma ini cocok untuk mereka yang punya timeframe jangka panjang lebih dari 10 tahun. Semakin lama akan semakin memperkokoh dan memperkuat investasinya. Membandingkan paradigma ini untuk strategi jangka pendek tidak akan masuk akal.

Paradigma ini akan semakin kuat saat investornya terus belajar meningkatkan pengetahuannya.

Circle of Competence

‘Invest in What You Know’ hampir mirip dengan paradigma ‘Circle of Competence’. Bahwa pengetahuan kita akan bisnis bisa memperkuat keyakinan dan langkah kita dalam berinvestasi. Efeknya akan dahsyat kepada keputusan dan hasil investasi kita.

Saya percaya Peter Lynch tidak salah dengan menyederhanakan paradigma ini dengan konsep sederhana. Ketahui. Ketahui. Ketahui. Maka, kamu akan tahu!


Published: 11 Jul 2022Last updated: 14 Jul 2022